"Ayu utami itu nggak mau nikah," celetuk Ayu, staff PR di kantor saya yang baru.
****
Hanya beberapa menit berselang, ia kembali berkomentar, "Oh, Ayu Utami udah menikah sekarang."
Komentar-komentar Ayu tentang Ayu Utami membuat perhatian saya tertuju ke laptop yang ia pandang. Ternyata ia sedang membaca tulisan mengenai Ayu Utami di sebuah blog.
Si penulis blog menulis mengenai konsistensi sikap Ayu Utami tentang pernikahan. Dia mempertanyakan mengapa jika dulu Ayu Utami bersikap menentang pernikahan, kini justru malah menikah. Si penulis juga mengaitkannya dengan kodrat perempuan salah satunya adalah menikah.
Ya, kalau sudah bicara dari sudut pandang agama, pasti jadinya banyak pro dan kontra. Yang memberi komentar di blog tersebut juga ada yang pro ada yang kontra.
Saya tidak mau membahas mengenai sikap Ayu Utami. Lha, itu kan haknya. Mau menikah mau tidak juga bukan urusan saya. Cuma saya jadi teringat akan pengalaman sahabat saya.
Sempat Mempertanyakan Arti Pernikahan
Buat apa sih orang menikah? Jawaban itu belum bisa ditemukan oleh sahabat saya, sebut saja namanya Lita. Hingga akhir tahun lalupin ia tidak melihat esensi dari pernikahan, selain dari pada sebuah ikatan. Cuma ikatan. Saat itu bagi dirinya pernikahan adalah sebuah konstruksi sosial. Pernikahan dia anggap akan membelenggu kebebasannya Pernikahan akan menghalangi kemajuannya.
Menurut Lita, ia pernah melontarkan pernyataan dalam hati yang cukup ekstrim, "Kalau gue gak punya orang tua ataupun agama, gw mungkin nggak akan menikah." Padahal saat itu, Lita yang kini berusia 29 tahun, punya pasangan yang serius, dan mempersiapkan diri menuju pernikahan.
Titik balik itu terjadi di awal tahun ini, ketika Lita mulai merasa mendapatkan semua yang Lita inginkan. Ada sebuah kebutuhan di dalam diri yang membuat Lita mempertanyakan, "Apa lagi yang ingin saya cari?" Di saat bersamaan pasangan yang telah bersama Lita cukup lama, memutuskan untuk tidak lagi bersama Lita. Jadilah ia benar-benar sendiri.
Ketika itu saat karir Lita sedang di atas, menikmati buah perjuangan. Namun, tidak ada orang untuk berbagi. Sahabat-sahabat Lita sudah menikah dan punya anak. Kalaupun ada yang menikah, ia tinggal jauh dari dirinya. "Gue, ngerasa lonely. Bingung mau ngapain karena temen-temen deket gue udah ga ada. Terus gue sama siapa?" Ujarnya.
Kemudian Lita mulai iri melihat teman kantor yang sedang bermain dengan anak-anaknya yang masih mungil. "Ah, lucunya," gumam Lita dalam hati.
Di tambah lagi, Lita mulai dekat dengan seseorang yang tinggal bersama 2 orang lainnya, adik, dan temannya. Karena mereka laki-laki, Lita sering memasak untuk mereka. Saat Lita menginap, dia sering bercanda dengan mereka, menonton TV bersama, bercerita, dan bahkan tidur di dalam kamar yang sama.
Teman Lita itu itu kemudian berkata, "Sebenernya nikah ya kaya gini. Kerja, pulang ke rumah, bercanda, masak, tidur. Dan ada lagi tambahannya, seks. Ya, memikirkan duit sih untuk menghidupi keluarga. Tapi secara garis besar ya begini."
Semua itu menjadi trigger timbulnya keinginan Lita untuk berkeluarga. Belum lagi Lita merasa muak dengan hura-hura yang sempat ia jalani.
LIta merasa persoalan ini adalah masalah fase hidup dan berdasarkan apa kita memandang sesuatu. Saat ini Lita mulai memahami mengapa orang menikah karena ia mulai melihat dari kacamata kebutuhan akan kasih sayang serta sudut pandang agama.
****
Well, apapun itu, saya setuju dengan pendapat Ayu Utami bahwa tidak ada seorang pun atau apapun yang berhak mendikte apa yang harus kita lakukan. Everything that we do must come from the heart.